Ketika Santri Dayah Darul Ihsan Abu Krueng Kalee Merawat Tradisi melalui Antologi Cerpen

Hari Santri Nasional 2025 dirayakan berbeda oleh santriwati Dayah Darul Ihsan Abu Krueng Kalee, Siem, Aceh Besar. Bukan sekadar upacara atau zikir, mereka juga merayakannya dengan meuseuraya merawat literasi: menulis dan menerbitkan antologi cerpen berjudul Menyulam Sejarah dan Menulis Masa Depan.

Sebanyak 32 cerpen ditulis oleh santri dari kelas jurnalistik dan kelas menulis putri. Mereka menulis dari hati, dimulai dari selembar kertas folio, lalu diketik ulang di ruang komputer dayah. Proses kreatif ini dibimbing oleh Tgk Mustafa Husen Woyla.

Kegiatan ini menjadi bagian dari rangkaian resmi peringatan Hari Santri Nasional yang tahun ini mengusung tema “Mengawal Indonesia Merdeka, Menuju Peradaban Dunia.”

“Hari Santri bukan hanya soal sarung dan sorban, tapi juga pena, ide, dan keberanian menulis zaman,” ujar Mustafa Husen Woyla, Rabu (22/10/2025).

Proses kreatif dimulai lewat tema besar yang ditentukan panitia, namun judul dan isi ditulis bebas. Hasilnya, lahir kisah-kisah kuat yang merekam kehidupan, harapan, dan keteguhan para santri. Beberapa judul yang akan dibukukan antara lain:

  • Ketika Bell Mushalla Berdenting Nyaring – Hauzha Ziyani
  • Santri Kecil Pemberani – Farannisa Zhafirah
  • Tangisan Terakhir – Cut Syifa Salsabila
  • Seribu Mimpi dalam Seribu Raga – Cut Zahira Almaira
  • Satu-Satunya Harapan Orang Tua – Cut Fahira Layana
  • Harapan Mama – Asla Izzati
  • Walaupun Sakit Itu akan Tetap Jadi Kenangan – Rihadatul Aisy

Ketua Yayasan Dayah Darul Ihsan Abu Krueng Kalee, Tgk H. Musannif Sanusi, memberi apresiasi atas upaya santri merawat tradisi literasi.

“Ini bukan sekadar buku cerpen. Ini jejak peradaban. Ketika santri menulis, mereka sedang mengabadikan zamannya. Kami mendukung sepenuhnya karena literasi adalah bagian dari jihad intelektual,” katanya.

Antologi ini didedikasikan untuk Hari Santri 2025 dan diharapkan menjadi awal dari tradisi baru di pesantren, menulis sebagai bentuk merawat zaman.

Seperti ditulis salah satu santriwati dalam pengantar buku: “Kalau hari ini kami menulis, itu karena kami tidak ingin sejarah kecil kami hilang begitu saja.”

Antologi ini diharapkan menjadi permulaan tradisi baru: santri tidak hanya pandai membaca kitab, tetapi juga mampu menulis pemikiran, pengalaman, dan harapan. Dari pesantren di Siem, Aceh Besar, mereka ingin menunjukkan bahwa santri bukan hanya penjaga tradisi, tetapi juga penulis masa depan.

Sumber: https://theacehpost.com/news/ketika-santri-dayah-darul-ihsan-abu-krueng-kalee-merawat-tradisi-melalui-antologi-cerpen/index.html

Facebook
X
Pinterest
WhatsApp
Email

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *