Kawal Kemerdekaan,  Santri Darul Ihsan  Abu Kureng Kalee, Gelar Upacara,  Zikir dan Doa

Aceh Besar – Ada bermacam rangkaian perayaan Dirgahayu Republik Indonesia ke- 77, baik di pusat, daerah, luar negeri bahkan sampai ke kecataman dan berbagai lembaga pendidikan.

Ada rangkaian wajib, berupa upacara lengkap pada hari 17 Agustus, ada juga perlombaan dan acara hiburan untuk memeriahkan dan mengisi peringatan hari yang bersejarah  tersebut.

Begitu juga di pulau paling ujung di Sumatera, Aceh. Tepatnya di dayah Darul Ihsan Abu Hasan Krueng Kalee, di desa  Siem, Kecamatan Darussalam, Aceh Besar melaksanakan upacara pada, Rabu, 17 Agustustus 2022, sebelumnya ada berbagai lomba olahraga dan ketangkasan.

santri Darul Ihsan memenuhi lapangan bola kaki mengikuti upacara HUT RI ke 77

Setelah upacara di lapangan bola kaki dayah darul ihsan, santri malamnya mengadakan shamadiah,  doa dan zikir bersama kepada para syuhada, pejuang dan seluruh elemen masyarakat Indonesia dan dunia yang telah berkontribusi tercapai kemerdekaan republik Indonesia pada tahun 17 Agustus 1945, silam.

Adapun yang bertindak sebagai pembina upacara Tgk Edi Syuhada, S.S, Pembacaan doa oleh Tgk Sirajuddin Amin, S.Pd.I.

Ketua Yayasan Tgk Haji Hasan Krueng Kalee, Tgk H Musannif Sanusi, SE mengatakan, peringatan HUT – RI yang diperingati setiap tahunnya bukan hanya sekedar acara seremoni.

Kita berharap santri, wali, guru dan segenap lapisan masyarakat, juga pemerintah dan jajarannya juga menyadari bahwa kemerdekaan ini, ada andil santri dan ulama. Dan jasa mereka mesti harus dihargai sebagai bentuk menghargai jerih payah mereka.

“Karena dari tinjauan historis dan  kedaerahan,  Aceh dan ulama serta rakyatnya,  punya andil besar, memompa semangat mempertahankan kemerdekaan melalui MAKLUMAT ULAMA SELURUH ACEH. Pada 15 – 10 – 1945.” Lanjut Tgk Musannif

“Dan juga kontribusi nyata Abu Hasan Krueng Kalee dan pendapat Abuya Muda Waly, dua ulama Aceh pada  2-7 Maret 1954 di Cipanas Cianjur Jawa Barat, dalam penentuan Soekarno sebagai Presiden Pertama Republik Indonesia di Cipanas. yang menetapkan Presiden Soekarno sebagai wali al-amr al-dharuri bi al-syaukah.” Kenang ketua yayasan Darul Ihsan. [MHW]

 

 

Meriahkan HSN Ke – VI Dayah Darul Ihsan Gelar PORSEDI

Foto bersama usai pemotongan pita pembukaan PORSEDI (Pekan Olahraga dan Seni Darul Ihsan),  Tgl, 22 Oktober 2020, Siem, Darussalam, Aceh Besar

Darussalam –  Tgk Muhammad Faisal Pimpinan Dayah resmi membuka peyelenggaraan PORSEDI (Pekan Olahraga dan Seni Darul Ihsan), Kamis, 22 Oktober 2020.

Kegiatan ini dikoordinir oleh Organisasi Santri Darul Ihsan (OSDI) yang berlangsung di komplek dayah, Siem, Darussalam, Aceh Besar selama 3 hari setelah ke depan.

Agenda tahunan ini sengaja digelar bersamaan dengan peringatan Hari Santri Nasional (HSN) ke VI tahun 2020 sebagai bentuk kontribusi nyata civitas dayah dalam menyukseskan program pemerintah oleh Kementerian Agama Provinsi Aceh dan Dinas Pendidikan Dayah Aceh (DPD-A).

“Perlehatan bergengsi bagi santri ini dengan tagline “Santri Sehat,Aceh Hebat,Indonesia Kuat’  bertujuan untuk mencari bakat dan minat santri, sekaligus penyemangat di masa Pandemi Covid – 19 yang melanda seluruh dunia.” Terang Alman Faluthi, ketua penyelangara Putra.

Perlombaan digelar secara arena terpisah, tidak bercampur, ada cabang putra dan ada cabang  putri, karena Darul Ihsan terpisah komplek, Gedung RKB dan asrama.

Putra bertemakan ACTION ( Actualizing The Generation Talents, mewujukan generasi yang berbakat) dan Putri bertema HARVARD  (Having Rivalry Deal, Pertandingan Yang Adil).

Direncanakan penutupan dan pembagian hadiah bertetapan dengan malam 12 rabiul awal, malam peringatan kelahiran nabi Muhammad SAW di komplek dayah.

“Adapun yang memperlombakan ada 37 cabang, antara lain, Fahmil qur’an, qiraatil kutub at turats, debat bahasa, kaligrafi, tahfidz dan cabang lain yang ada pada Musabaqah Qiraatil Kutub (MQK) dan Musabaqah Tilawatil Quran (MTQ).” Terang Ina Fadla selaku panitia penyelenggara putri. [mhw]

 

 

Santriwati Darul Ihsan Raih Juara I Baca Kitab Kuning di PORSENI Biruen

Kana Rahmi

Banda Aceh – Keuletan dan kegigihan Kana Rahmi  bergelut dengan ilmu Nahwu Sharaf ternyata tidak sia-sia, berkat kegetolannya Kana Rahmi  berhasil meraih juara I bidang baca Kitab Kuning Katagori Putri. Berkat prestasi itu Kana Rahmi sudah mengharumkan nama Aceh Besar di tingkat Provinsi di ajang Pekan olahraga dan Seni (Porseni) 2014 yang diadakan oleh Kanwil Kementerian Agama (Kanwil Kemenag) Aceh di  Kabupaten Bireuen. (12/8/14).

  
Disamping mendapat piala dan uang saku, Kana Rahmi  juga mendapat sertifikat yang ditanda tangani langsung oleh Menteri Agama Repulik Indonesia,  Lukman Hakim Saifuddin.
Kana, begitu panggilan akrab kawan-kawannya  adalah  buah hati dari pasangan Dirhamsyah dan kudusisara. Sekarang Kana  tercatat sebagai santriwati kelas III Aliyah di MAS Darul Ihsan Abu Hasan Krueng Kalee, Siem, Darussalam, Aceh Besar ini memang dikenal sangat mencintai pelajaran bahasa Arab dan gemar membaca kitab kuning.

Sementara Putra yang berhasil meraih juara II cabang tolak peluru yang diraih oleh Noufal Zaki, siswa kelas III Madrasah Aliyah Darul Ihsan. Adapun peserta lomba  Tenis Meja Ganda Putra, Yanis Anggita dan Fauzi, Taufiq, cabang Akapela dan debat bahasa Arab, Nura Safarina, Kaligrafi, Liza Zulaini, Pidato Bahasa Arab, Cut Qatrunnada tidak mendapat juara dalam Porseni 2014 Bireun ini.
Dari Kanan, Fauzi, Yanis Anggita dan Noufal Zaki

Ustad H Muakhir Zakaria, MA selaku pembimbing utama bidang kitab at-turats (Kitab Kuning) sangat gembira dengan hasil yang sudah  diraih. Semoga kedepan akan ada generasi yang mampu mempertahankan prestasi yang telah diraih tersebut. Pintanya. (*).

Dari Kanan: Liza Zulaini, Kana Rahmi, Nura Safarina dan Cut Qatrunnada

KAMMI Aceh Besar Rekrut Kader Pemimpin

Pengurus Daerah Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia (KAMMI) Aceh Besar telah selesai menggelar Daurah Marhalah I. Acara ini merupakan agenda rutin yang diadakan sebagai ajang perekrutan mahasiswa untuk menjadi kader KAMMI.

Acara tersebut dilaksanakan di Dayah Darul Ihsan Gampong Siem Aceh Besar mulai tanggal 2 hingga 4 Mei 2014. Peserta yang mendaftar mencapai 40 orang yang tersebar dari beberapa kampus di Banda Aceh, antara lain STKIP Bina Bangsa Getsampena, Universitas Serambi Mekkah dan dari Universitas Syiah Kuala.
Mahasiswa yang merupakan subjek penggerak perubahan Indonesia dan Aceh khususnya ke arah yang lebih baik, harus terus difasilitasi dalam upayanya mengembangkan wawasan serta memperdalam keilmuan guna menghasilkan solusi-solusi positif atas segala permasalahan bangsa. Oleh karena itu, Radian Amin, ketua panitia pelaksana menyampaikan bahwa kegiatan ini diusung dengan tema “Bergerak Bersama, Memimpin Indonesia”.
“KAMMI sebagai wadah perjuangan permanen yang akan melahirkan kader-kader pemimpin yang tangguh dalam upaya mewujudkan bangsa dan Negara Indonesia yang Islami”, merupakan visi organisasi mahasiswa ekstra kampus ini. Martunus, Ketua KAMMI Aceh Besar berharap bahwa kader-kader KAMMI harus menjadi front liner dalam perbaikan bangsa ke depan, terutama untuk Daerah Aceh Besar, Aceh, dan Indonesia pada umumnya.

 Beliau juga menyampaikan bahwa Daurah Marhalah ini dilakukan setiap dua bulan sekali, untuk menjaring mahasiswa-mahasiswa yang peka terhadap kondisi masyarakat sehingga layak menjadi pemimpin-pemimpin yang potensial ke depannya. (Tafa).

Wadir Darul Ihsan Isi Pengajian Wartawan

# Kemungkaran dan Kiat Penanggulangannya

Banda Aceh- Sudah satu Dasawarsa setengah (baca, lima belas tahun) Syariat Islam dicetuskan di Aceh. namun, angka pelanggaran masih sangat memprihatinkan dan itu bukan hasil survey atau penelitian namun selangkah saja kita keluar rumah dengan sangat mudah kita dapati pelanggar syariat tersebut. Demikian kata Wadir Darul Ihsan Abu Krueng Kalee, Dr. H Abizal Muhammad Yati, Lc MA dalam pengajian rutin Kaukus Wartawan Peduli Syariat Islam (KWPSI)di Rumoh Aceh, Kuphi Luwak, Jeulingkee. (29/1/).

Faktor munculnya kemungkaran Antara lain;
Pertama, Lemahnya pemahaman agama sehingga berdampak kepada pembangkangan yang terkadang mereka tidak tau telah mengerjakan kesalahan yang dimurkai Allah dan ini juga menjadi fenomena akhir zaman berupa diangkatnya ilmu dengan diwafatkan ulama maka merajalelanya kebodohan yang menjadi cikal bakal lahirnya kemungkaran. 
Kedua, orang tua melupakan perannya sebagai pendidik di rumah bahkan sering mencari kambing hitam ketika anak gagal dalam pendidikan. Padahal rumah tangga adalah madrastul ula (sekolah pertama) jika ini gagal maka kemungkinan besar pendidikan selanjutnya akan menuai kegagalan, baik gagal dalam bidang prestasi maupun gagal dalam pendidikan akhlak. Jelas doktor muda dan dosen luar biasa di Pasca UIN Ar-arrniry. 
Para wartawan ada aktifis sangat antusias mengikuti kajian tersebut, banyak sekali peserta memberi masukan untuk tegak syariat Islam di Aceh, antara lain ide brilian yang diungkapkan oleh Badaruddin dari Badan Pembinaan Pendidikan Dayah (BPPD) Aceh, katanya terinspirasi dari tertib lalu lintas ‘’ jika ingin syariat Islam berjalan di Aceh mesti juga diberlakukan rumah tangga tertip syariat”. 
Hal ini sesuai dengan penjelasan pemateri yang mengatakan jika syariat gagal di rumah otomatis dalam kumpulan masyarakat tentunya gagal karena Pemerintahan desa hingga menjadi sebuah Provinsi sampai Negara terdiri dari rumah Tangga. 
Ketiga, diamnya orang baik terhadap kemungkaran. Hal ini sangat berbahaya, jika orang yang mengerti dan orang baik sudah merelakan kemaksiatan merajalela tentu orang awam akan terus terjerumus kedalam jurang kemakstian yang tiada ujung. Demikian kesimpulan yang disarikan oleh moderator, Tgk Mustafa Husen Woyla.
Keempat Sekulerisasi Pendidikan Islam. Ini juga sangat berbahaya karena jika dalam pendidikan saja sudah terjadi minimalis apalagi dalam pengamalan sehari-hari sudah sudah jelas hampir nihil. 
Penanggulangannyaa;
Pertama, Memperluas dimensi dakwah
Menggiatkan dakwah dalam segala bidang tidak berfokus pada dakwah mimbar semata nmun lebih luas sampai kepada penyuluhan yang menyentuh ke hati orang awam. Selama ini, para dai atau muballigh hanya berkutat pada pengajian dan tausyiah saja tidak turun ke terminal, Lembaga Pemasyarakatan dan sejumlah tempat yang rawan dan objek dakwah. 
Kedua, Keseriusan Pemerintah
Selama ini kita melihat pemerintah masih setengah hati dalam menjalankan syariat Islam di Aceh. Bukti banyak sekali. Salah satunya, ketika ada bawahannya (baca. Bupati/Wali Kota) yang serius menjalankan Syariat tidak ada apresiasi atau penghargaan secara resm seperti Wakil Wali Kota Banda Aceh Illiza Sa’aduddin Jamal dan Wali Kota Langsa, Usman Abdullah. Yang kita saksikan hanya Ormas Islam yang memperhatikan demikian. Sementara Pemerintah kemana. Tanya Abizal. 
Ketiga , Tidak mencegah kumungkaran dengan kemungkaran.
Ketika menanggulangi kejahatan jauhi sebisa mungkin hal-hal yang menimbulkan kemungkaran baru. Tugas kita bukan melawan orang jahat karena kalau penjahat dilawan bisa jadi akan bertambah orang jahat baru tapi tugas kita mengajak mereka ke arah yang baik sehingga orang baik semakin bertambah dari hari ke hari. (tafa).

dimuat juga di Hidayatullah.com
http://www.hidayatullah.com/read/2014/02/02/15858/masih-banyak-pelanggaran-syariat-jangan-cegah-kemunkaran-dengan-cara-munkar.html

Darul Ihsan penguasa Grup A di LPA


Serambinwes, Minggu, 10 November 2013 13:49 WIB
BANDA ACEH – Al Fityan meraih juara III dalam Liga sepakbola Darul Ulum Cup tingkat Madrasah Tsanawiyah (MTs) Se-Banda Aceh dan Aceh Besar. Keberhasilan ini setelah menaklukkan Oemar Diyan dengan skor 4-0 di Stadion H Dimurthala, Lampineung, Banda Aceh, Sabtu (9/11) sore.
Tampil dalam laga kemarin, kedua tim sama-sama ingin meraih posisi ketiga usai gagal menembus final. Tekanan yang dilancarkan kedua tim mampu menghadirkan sejumlah peluang. Hanya saja, Al Fityan berhasil membobol gawang Oemar Diyan hingga empat gol. Rizal menjadi pahlawan kemenangan Al Fityan lewat hetriknya di menit 10, 15, dan 20, serta gol tunggal Rama di menit 40. Upaya balasan yang dilakukan Oemar Diyan tak berhasil hingga laga usai.
Sedangkan Darul Ulum menjadi juara Grup B dan Riab B runner-up. Darul Ihsan penguasa Grup A dan Al Falah runner-up tingkat Madrasah Aliyah (MA). Laga terakhir kemarin, Darul Ulum membungkam Darul Hijrah dengan skor 2-0. Gol Kausar di menit 3, dan Amrul di menit membuat Darul Ulum. Kemudian Darul Ihsan mengalahkan Riab A dengan skor 2-1. Gol Darul Ihsan Nauva Zaki di menit 3, dan Mushalin di menit 40, serta Riab melalui Irsal di menit 19. Laga hari ini, Al Manar A dan Darul Ulum memperebutkan gelar juara tingkat MTs. Kemudian Darul Ihsan melawan Riab B, dan dilanjutkan Darul Ulum menantang Al Falah.(adi)

Ulama Aceh Harus Berpolitik


Tgk. Muhammad Faisal, S,Ag. M.Ag. 
Pimpinan Dayah Pesantren Darul Ihsan.

PENGANTAR Saat ini perdamaian di Aceh perlu dijaga dan dikawal agar kesejahteraan umat tercapai. Namun, tidak mudah diraih jika semua pihak tidak memberikan kontribusinya termasuk ulama sebagai panutan ummat. Barangkali, perdamaian yang kita rasakan saat ini hanya dinikmati oleh segelintir orang dan tidak sesuai dengan harapan rakyat Aceh selama ini. Karena itu, peran dan posisi ulama pantas kita harapkan demi tidak melahirkan konflik baru di Aceh.

Dalam inilah yang mendorong keterlibatan ulama dalam mengambil peran maupun posisi dalam mengayomi rakyat. Kedudukan ulama sebagai pengawal masyarakat yaitu sebagai pendidik, pembimbing, dan pendakwah sudah tepat.  Peran dan posisi ulama  memang cukup krusial. Ulama bukan pelaku politik praktis, tapi mengerti tentang politik sekaligus membimbing umat ke akhlak dan moral politik sesuai ajaran dan pesan Islam. Berikut pendapat Tgk. Muhammad Faisal, S,Ag. M.Ag dalam wawancara Riri Isthafa Najmi jurnalis Gema Baiturrahman.

Menurut anda, bagaimana peran ulama dalam menjaga perdamaian Aceh?
Ulama tidak boleh jauh dari dunia politik. Untuk menjaga perdamaian, ulama tidak boleh memihak jika ada pihak yang bertikai. Dalam hal ini, ulama harus netral. Jika terjadi sengketa, ulama harus menela’ah setiap pemikiran yang muncul dan harus dievaluasi tapi berdasarkan syariat islam. Allah SWT telah berfirman “Dan kalau ada dua golongan dari mereka yang beriman itu berperang hendaklah kamu damaikan antara keduanya! Tapi kalau yang satu melanggar perjanjian terhadap yang lain, hendaklah yang melanggar perjanjian itu kamu perangi sampai surut kembali pada perintah Allah. Kalau dia telah surut, damaikanlah antara keduanya menurut keadilan, dan hendaklah kamu berlaku adil; sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang berlaku adil.

Apa saja kontribusi ulama dalam mewujudkan perdamaian di Aceh?
Disini ulama harus siap berkompromi langsung baik dengan pemerintah Aceh maupun dengan kelompok-kelompok tertentu. Dalam hal ini, kedudukan ulama sebagai pengawal masyarakat yaitu sebagai pembimbing, dan pendakwah sudah tepat namun ulama harus diberi kesempatan untuk berpolitik.
Bukan berarti ulama harus terjun ke dalam politik praktis tapi ulama wajib dan harus mengaasi dan memberi masukan supaya semua yang dilakukan harus sesuai dengan syariat islam baik dalam pembuatan undang-undang maupun dalam pengaplikasiannya.
Apakah selama ini demokrasi telah menjunjung tinggi nilai perdamaian di Aceh?
Berbicara demokrasi yang sistemnya dari barat sudah pasti bertentangan dengan ajaran agama islam. Demokrasi barat adalah undang-undang yang diciptakan oleh parlemen untuk menciptakan masyarakat yang taat hukum. Tapi pengalaman manusia menunjukkan bahwa undang-undang manusia ternyata tidak mampu menciptakan masyarakat yang taat hukum. Namun, dalam demokrasi islam harus berdasarkan Al-Qur’an, Al-Hadist, Ijtima’ dan Ijtihad. Itu adalah sumber tasyri’ atau pemutus perkara dalam demokrasi islam.
Dalam pemahaman demokrasi sekarang, rakyat memilih para wakilnya untuk duduk di parlemen. Wakil rakyat yang terpilih seperti legislatif hanya fokus kepada pembuatan undang-undang, kemudian yudikatif berfungsi menyelenggarakan kekuasaan kehakiman dengan tujuan menegakkan hukum dan keadilan dan begitu juga dengan eksekutif yaitu untuk menjalankan sistem perundang-undangan yang telah dibuat.
Tapi, demokrasi islam sangat berbeda dengan hukum barat yang dibuat oleh manusia, sedangkan demokrasi islam adalah hukum ALLAH SWT yang harus ditegakkan melalui syariat islam. Tapi yang terjadi sekarang adalah demokrasi telah meminggirkan peran ulama karena pendapat ulama dianggap sebagai bagian kelompok atau minoritas  terkecil di dalam masyarakat”
Bagaimana peran ulama jika perdamaian di Aceh tak terwujud?
Ulama harus memiliki peran yang krusial yaitu walaupun ulama bukan pelaku politik praktis, tapi mengerti tentang politik sekaligus membimbing umat ke akhlak dan moral politik sesuai ajaran dan pesan Islam. Jika terjadi sengketa yang menyebabkan perdamaian yang terwujud, maka ulama berperan sebagai kelompok yang berada ditengah dan netral (tidak memihak).
Dalam hal ini, ulama berperan sebagai penasihat, pendamai, petunjuk, pengawal, pembina, dan penyelesai sengketa umat Ulama itu adalah pewaris para nabi. Harus dipahami bahwa diwariskan bukan status kenabian tetapi peranannya dalam kehidupan ummat manusia sebagai penyambung titah nabi (perintah Allah SWT).
Menurut anda, bagaimana nasib bangsa Aceh ketika para ulama telah tiada?
Ulama harus dikaderkan. Tentu setiap yang bernyawa akan mengalami kematian. Ketika ulama telah tiada, orang yang faham dan memiliki ilmu agama yang kuat harus mengganti ulama yang telah kembali ke Rabbnya. Kemudian, rakyat akan mengambilnya sebagai pemimpin dan sumber ilmu.
Tapi, tidak semua orang bisa menjadi pengganti ulama karena memiliki ilmu agama yang terbatas. Namun hanya beberapa orang yang telah memperdalam pengetahuan tentang ilmu agama yang mampu melanjutkan estafet peranannya sebagai ulama. Dalam hal ini Allah berfirman “Tidak sepatutnya bagi mukminin itu pergi semuanya (ke medan perang). Mengapa tidak pergi dari tiap-tiap golongan di antara mereka beberapa orang untuk memperdalam pengetahuan mereka tentang agama dan untuk memberi peringatan kepada kaumnya apabila mereka telah kembali kepadanya, supaya mereka itu dapat menjaga dirinya.”

Santri Darul Ihsan Aceh Besar Manfaatkan Ramadan untuk Mengasah Bakat Manulis

Selasa, 23/07/2013 09:41 WIB Banda Aceh – Sekitar 60 santri dari tingkatan MTsS dan MAS Dayah Darul Ihsan Abu Hasan Krueng Kalee desa Siem, Darussalam, Aceh Besar mengikuti pelatihan menulis. Kegiatan ini bekerjasama dengan Forum Lingkar Pena (FLP) Aceh pada Kamis, 18 Juli 2013 M/9 Ramadan 1434 H.

Dalam kata-kata sambutannya, koodinator Daurah Ramadan Dayah Darul Ihsan Ustad Mustafa Husen Woyla mengatakan, Pelatihan menulis Cerpen dan Puisi ini bagian dari Program Daurah Ramadan yang berbentuk non Akademik. Oleh karena itu tidak semua santri wajib mengikuti. Pelatihan ini diberikan kepada mereka yang mempunyai bakat dan minat dalam dunia tulis menulis.

Materi pertama diisi oleh mantan Ketua Umum Forum Lingkar Pena (FLP) Aceh, yang juga penulis antologi cerpen Rumah Matahari Terbit dan Kerdam Cinta Palestina, Riza Rahmi. Sajak dan esai karya Riza juga pernah dimuat di beberapa media dan memenangkan sejumlah perlombaan.
Materi kedua disi oleh Afrida Arfah Penulis buku “Puisi diantara hari, OMG MY MOM, buku antologi puisi “Munajat Sesayat Doa”, dan beberapa tulisan di media cetak dan website pribadinya. Afrida saat ini menjabat sebagai direktur Kamoe Publishing House.

Ketua Yayasan Darul Ihsan, H Musannif, SE mengharapkan ke depan para penulis dari FLP bisa memberikan waktu khusus untuk membina santri-santri yang mempunyai bakat dalam menulis. Sehingga nantinya Darul Ihsan akan melahirkan penulis-penulis yang mengahasilkan karya yang bisa memberikan warna baru dalam dunia tulis menulis di tingkat lokal maupun nasional.

Beliau menambahkan, Pelatihan ini dinilai sangat penting karena selama ini, kita sadar betul di kalangan Dayah Aceh sedang krisis penulis dalam segala bidang. Padahal dunia pesantren tempo dulu tidak pernah sepi dari karya dalam berbagai disiplin ilmu. Katakankanlah dalam bidang Roman, ada “Bernaung di Bawah Ka’bah dan Tenggelamnya Kapal Vander Wich” Karya Buya Hamka Sang Mestro yang berasal dari dunia pesantren.

Jika anda memiliki informasi menarik ataupun kegiatan seputar pesantren yang dapat dibagi dengan kami dan pembaca lainnya, silakan kirim ke ramdhan@detik.com. Jangan lupa sertakan foto dan nomor kontak.

Share: Twitter | Facebook | Email
(0) Komentar | Kirim komentar
Baca Juga: Pesantren Nurul Yaqin, Cahaya Iman di Mutiara Hitam di Ufuk Timur Agar Berdaya Saing, Pengelola Kopontren Harus Berjiwa Kewirausahaan Ponpes Jamsaren, Pesantren Tertua Kampusnya Para Pejuang

Berita Terpopuler: Perjalanan Perbankan Syariah di Indonesia (Habis) Beginilah Cinta Rasulullah kepada Anak Yatim As-Syafiiyah, Taman Al-Quran di Pulo Air Sukabumi Sidogiri, Pesantren Berumur Hampir 3 Abad di Pasuruan

Santri Darul Ihsan Aceh Besar Salurkan Bantuan Gempa Gayo Melalui PWI Aceh

Aceh Besar-LintasGayo: Ratusan santri Darul Ihsan, Desa SIM, Aceh Besar mengumpulkan dana Rp 1.149.000 untuk korban gempa gayo di dua kabupaten, yakni Aceh Tengah dan Bener Meriah.
Dana yang terkumpul itu, kemudian diserahkan oleh Mustafa Husen Woyla didampingi istrinya Maulisa kepada Ketua PWI Aceh Tarmilin Usman untuk diteruskan kepada yang berhak nantinya.
‘Kami turut berduka atas musibah yang menimpa saudara-saudara kami juga di Aceh Tengah dan Bener Meriah, semoga dengan bantuan ini paling tidak dapat dimanfaatkan untuk kehidupan sehari-hari,” ujar Mustafa usai penyerahan bantuan di kantor PWI Aceh, Selasa (16/7/2013).
Ia menyebutkan, para santri di pesantren Darul Ihsan, setiap malamnya melakukan doa bersama untuk keselamatan masyarakat di dua daerah itu, semoga kejadian ini dapat menjadi pelajaran bersama bagi kita semua.
“Kita semua dapat mengambil hikmah atas kejadian ini, mudah-mudahan Allah SWT selalu memberikan rahmat dan hidayah kepada hambanya,” ujar Mustafa.
Ketua PWI Tarmilin Usman menyampaikan ucapan terimkasih atas kepercayaan santri Darul Ihsan kepada PWI Aceh melalui Posko Kemanusiaan untuk Gempa Gayo untuk menyalurkan bantuan tersebut kepada para korban gempa.
“Bantuan ini akan kita salurkan, dalam penyaluran tahap II,” ujar Tarmilin sembari menambahkan, pada tahap I, PWI Aceh sudah menyalurkannya ke Kampung Sp Juli, Kecamatan Ketol Aceh Tengah pada Minggu, 14 Juli lalu.(rilis/ghassa)

Wawancara wartawan Majalah Santri Dayah dengan Ayahnda Tgk. H. Waisul Qarani Aly Su’udy

Ayahnda Tgk. H. Waisul Qarany Ali As-suudy
Pendiri Dayah Darul Ihsan Abu Hasan Krueng Kalee


Syariat Islam di mata cucunda Abu Hasan Kreung Kalee
Benarkah  Syariat Islam sudah berjalan atau gagal di bumi Rencong?  Itulah spekulasi yang terus  bergulir di semua kalangan masyarakat Aceh. Menjalankan Syariat Islam di dalam bingkai NKRI bukan hal yang mudah karena antara Pusat dan Provinsi berbeda pijakan hukum atau adanya dualisme hukum. Pada satu pihak Aceh wajib menerapkan SI, dipihak yang lain Aceh juga tunduk kepada UUD 1945. Mempertimbangkan hukum dalam dua celah itu agar tidak terjadi kontradiksi antara hukum Islam dengan negara bukan hal yang mudah karena Indonesia bukan negara Islam. Contoh konkritnya.  Bagimana sulitnya  anak yang beragama Islam hidup dibawah  pimpinan keluarga yang beragama non-muslim. Begitulah nasib Syariat Islam Aceh jika digambarkan dalam bentuk sebuah keluarga.
Untuk mengetahui jawaban pastinya tentang nasib syariat Islam terkini di Aceh, Wartawan Majalah Santri Dayah sudah mewawancarai salah seorang tokoh masyarakat Aceh dan Pemerhati Pendidkan Dayah, Ayahnda H Waisul Qarany Ali As-Su’udy cucunda dari Ulama Besar Aceh, Abu Hasan Kreung Kalee di Kantor Yayasan Dayah Darul Ihsan, Sabtu (4/10/13). Berikut petikan wawancaranya;
Benarkah Syariat Islam di Aceh gagal atau sebaliknya?

Sebelum saya menjawab lebih jauh, terlebih dahulu mari kita buka lembaran sejarah  kapan syariat Islam dideklarasikan, SI (Syariat Islam) disahkan oleh pusat tahun 2002 pada masa Gubernur Abdullah Puteh. Artinya sudah sebelas tahun SI sudah diterapkan di Aceh. Lalu jika  kita katakan gagal atau tidak, kita mesti berkaca dulu bagaimana nasib Reformasi yang sudah disetujui dan dilaksanakan sepenuhnya  secara nasional dan sudah berusia satu dasawarsa setengah atau sudah lima belas tahun, masih saja terdapat kekurangan dan cacat disana-sini. Apalagi SI di Aceh yang masih dibawah ketiak NKRI yang menganut sistem yang sudah hampir sekuler ini. Jelas mendapat rintangan dan hambatan yang luar biasa. Kesimpulannya, SI di Aceh sedang dalam proses namun masih lamban.
Kemudian yang membuat SI di Aceh lamban adalah akibat perangkat kerja atau seluruh abdi negara yang ada di Aceh masih warisan Orde Baru dan wajah-wajah yang lama sebelum dideklarasikan SI. Jadi mentalistas mereka masih gaya lama belum sinergi dalam berfikir dan bertindak dalam mewujudkan SI secara menyuluruh. Itu adalah masalah utama hambatan SI terkini. Solusinya adalah membangun karakter mereka yang  relevan sebagai pekerja yang mendukung terwujud SI yang ideal nantinya.
Apakah Ulama Dayah, Akademisi dan Cendikiawan sudah maksimal memberikan kontribusi dalam penerapan SI?

Ulama,  Akademisi dan Cendikiawan hanya memberi masukan untuk legeslatif dan eksekutif serta  mendidik generasi. Jika itu sudah dilakukan berarti kontribusi mereka sudah maksimal. Sebenarnya yang bertanggung jawab dalam tegak dan tidaknya SI adalah eksekutor,  dalam hal ini Gubernur dan Bupati/Wali Kota. Jika gagal merekalah yang pantas disalahkan.
Bagaimana pandangan Ayahnda  Waisul terhadap Pro-Kontra Wali Nanggroe dalam bingkai Syariat Islam?
Wali Nangroe (WN) itu penting dan sudah legal yang tertuang dalam MoU Heslinki dan UUPA. Karena WN adalah wali adat bukan wali dalam pemerintahan jadi sudah jelas sampai dimana kewenangannya. Namun yang tidak kita setujui dengan adanya lembaga WN menjadi alasan bagi siapa saja dari kalangan kaum hitam yang memanfaatkan situasi untuk mengambil keuntungan menghabiskan uang rakyat. Sebagaimana yang kita ketahui sekarang wacana biaya pengukuhan saja sampai 50 M. Sebenarnya semeriah apapun acara yang dibuat tetap sebatas seremonial tidak berdampak pada tindakan nyata  berupa pembangunan fisik yang bernilai positif kepada masyarakat luas yang sangat membutuhkan.
Sekarang sedang mencuat isu mensyariatkan Bank Aceh, Bagaimana pandangan Ayahnda?
Pada prinsip saya sangat setuju. Namun perlu dipertanyakan apakah Bank Syariah Aceh sudah siap jika kekayaan Bank Aceh dikonversi ke Bank Syariah Aceh. Karena urusan Bank  sangat luas akses dalam masyarakat modern bukan hanya sekedar simpan pinjam tapi menyangkut dengan bisnis lintas negara, pembelian dan pembayaran berbagai barang dan jasa. Memang idealnya di bumi bersyariat dunia Perbankannya mesti bersyariat namun itu semua butuh proses dan kerja keras semua pihak untuk mewujudkanya.
Apa pandangan Ayahnda terhadap permohonan Bank Syariah Aceh menjadi Bank Umum dan penyertaan modal sebanyak 500 M di tahun 2013 ke DPRA?

Itu tidak penting. 500 M itu terlalu besar jika berikan kepada Bank Syariah saja.  Sementara banyak sektor yang perlu kita perhatikan dengan APBA yang kita miliki sekarang. Untuk memudahkan Kepada pemilik saham yaitu Gubernur Aceh dan dirut Bank  Aceh saya berharap segera bangun dari tidur untuk menghijrahkan Bank Aceh menjadi Bank Syariah. Jadi tidak perlu menambahkan penyertaan modal apalagi pendirian Bank secara mandiri (Tafa).