Di tengah bertumbuhnya lembaga pendidikan Islam di Aceh, Lembaga Pendidikan Dayah Darul Ihsan Abu Krueng Kalee di Gampong Siem, Aceh Besar, hadir sebagai model dayah terpadu yang tidak hanya mengajarkan ilmu agama, tetapi juga memberdayakan santri dan masyarakat.
Lembaga ini berdiri kokoh dengan visi jelas: mencetak generasi berilmu, berakhlak, sekaligus mandiri dalam menghadapi tantangan zaman.
Didirikan kembali pada 1999, Darul Ihsan berkembang dari dayah tradisional menjadi pusat pendidikan terpadu. Para santri tak hanya mempelajari kitab kuning dan tahfizh Alquran, tetapi juga dibekali keterampilan wirausaha, teknologi, dan pelatihan vokasi. Filosofinya sederhana: pendidikan harus melahirkan manusia berdaya, bukan sekadar pencari ilmu.
Darul Ihsan memegang teguh prinsip kualitas pendidikan. Jumlah santri dikelola agar pembinaan berlangsung intensif. Hasilnya nyata terjadi pada tahun 2025, tiga belas alumninya berhasil menembus Universitas Al-Azhar Kairo, Mesir, prestasi yang menjadi tolok ukur mutu pendidikan di Aceh.

Kurikulum dayah ini bahkan dijadikan rujukan oleh lembaga pendidikan lain, tidak hanya di Aceh, tetapi juga di Malaysia hingga Mindanao, Filipina.
Selain menguasai turats (kitab klasik), santri dibimbing mengembangkan keterampilan bahasa Arab dan Inggris, kepemimpinan, hingga public speaking.
“Pendidikan bukan sekadar banyaknya murid, tetapi memastikan setiap santri siap menghadapi kehidupan dengan ilmu dan keterampilan,” terang Ketua Lembaga Pendidikan Dayah Darul Ihsan Abu Krueng Kalee, Tgk H Musannif Sanusi SE, kepada , Aceh Besar, Sabtu (26/7/2025).
Darul Ihsan menjadi pelopor penerapan kemandirian ekonomi pesantren di Aceh. Konsep ini sejalan dengan Qanun Aceh Nomor 9 Tahun 2018 tentang Penyelenggaraan Pendidikan Dayah, regulasi penting yang di dalamnya tercantum mandat pemberdayaan ekonomi dayah.
Qanun tersebut tidak lahir begitu saja. Gagasannya, bersama sejumlah poin krusial lain, turut diinisiasi oleh Tgk H Musannif Sanusi SE SH, ketua Lembaga Pendidikan Dayah Darul Ihsan Abu Krueng Kalee sekaligus anggota Komisi VII DPRA kala itu.
Qanun ini menjadi salah satu rujukan dalam lahirnya Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2019 tentang Pesantren, yang mengatur tiga fungsi pesantren, yaitu pendidikan, dakwah, dan pemberdayaan masyarakat.
Di kompleks dayah, konsep ini diwujudkan melalui kolam bioflok ikan tawar, kebun murbei untuk bahan sutera, dan PT Agen Gas Melon 3 Kg yang dikelola bersama warga sekitar.
Ada juga produksi “Roti Dayah” serta air mineral Moya, yang hasilnya digunakan untuk operasional pendidikan dan membantu santri yatim serta dhuafa.
“Semua unit usaha ini bukan untuk mengejar profit semata. Hasilnya kembali ke dayah, menopang biaya pendidikan santri dan membantu masyarakat, terutama anak-anak Gampong Siem,” jelas Tgk Musannif lebih lanjut.

Menyadari tuntutan zaman, Darul Ihsan mendirikan Balai Latihan Kerja (BLK) Desain Komunikasi Visual. Program ini membekali santri keterampilan membuat desain, video, dan konten dakwah digital, agar mereka mampu berdakwah secara relevan di era media sosial sekaligus bersaing di industri kreatif.
Dengan pendekatan ini, santri tidak hanya siap menjadi dai, tetapi juga bisa menjadi kreator dan wirausahawan.
“Santri harus mandiri. Hidup tidak bisa hanya menunggu, tapi harus berusaha dan mencipta,” tegas Tgk H Musannif.
Darul Ihsan juga dikenal sebagai pusat kepedulian sosial. Pasca-tsunami 2004, dayah ini menjadi tempat penampungan korban bencana, sebelum kembali fokus menjadi pusat pendidikan agama dan umum.
Sejak 1999, ribuan santri telah menempuh pendidikan di Darul Ihsan, banyak diantaranya melanjutkan studi ke Timur Tengah, terutama Mesir, atau kembali mengabdi di Aceh sebagai guru, lintas profesi dan tokoh masyarakat.
Dengan pendekatan Integratif dan sistemik serta memadukan ilmu agama, pendidikan formal, kemandirian ekonomi, dan keterampilan masa kini, Darul Ihsan kini menjadi role model dayah di Aceh.
Di balik kemajuan Lembaga Pendidikan Darul Ihsan Abu Krueng Kalee, ada sosok Tgk H Musannif Sanusi SE SH. Lahir pada 1 Agustus 1973 di Aceh Besar, cucu ulama kharismatik Abu Hasan Krueng Kalee ini dikenal sebagai tokoh yang visioner. Sejak 1999, ia membangkitkan kembali Darul Ihsan, menjadikannya pusat pendidikan yang mandiri dan berdikari.
Selain membina pendidikan, Tgk Musannif berperan penting dalam mendorong pengakuan dayah secara legal. Melalui perannya di DPRA (2014–2019), ia ikut menginisiasi lahirnya Qanun Dayah yang memperkuat fungsi pendidikan dan ekonomi pesantren.
Jejak gagasan itu kemudian menjadi bagian dari Undang-Undang Pesantren 2019, yang memberi pengakuan nasional pada peran dayah.
“Pendidikan harus menyentuh semua aspek: ilmu, kemandirian, dan kebermanfaatan bagi masyarakat. Itulah semangat Darul Ihsan,” ujarnya.
Kini, di bawah kepemimpinannya, Darul Ihsan terus berkembang sebagai lembaga pendidikan Islam yang berakar di masyarakat, sekaligus menatap masa depan dengan optimisme
Sumber: https://theacehpost.com/news/transformasi-dayah-darul-ihsan-warisan-tradisi-sentuhan-digital-generasi-mandiri/index.html