Sejarah Singkat Dayah Darul Ihsan Krueng Kalee.
Dayah Terpadu Darul Ihsan merupakan salah satu dari dua dayah tertua yang telah ada di Aceh sejak masa kolonial Belanda. Lembaga ini merupakan tindak lanjut dari pengembangan Dayah Salafi Abu Krueng Kalee, yang pernah berkembang pada tahun 1910 hingga 1946.
Dayah ini didirikan oleh Abu Krueng Kalee, putra dari Teungku Haji Hanafiah yang bergelar Teungku Haji Muda Krueng Kalee. Abu Krueng Kalee dikenal sebagai ulama kharismatik di Aceh pada awal abad ke-20. Beliau menuntut ilmu di Dayah Yan-Kedah, Malaysia, lalu melanjutkan studi ke Masjidil Haram, Mekkah al-Mukarramah, selama tujuh tahun.
Pada masa tersebut (1910–1946), Dayah Krueng Kalee memiliki murid (thalabah) yang datang dari berbagai daerah di Nusantara dan negeri tetangga seperti Malaysia. Di bawah kepemimpinannya, pendidikan dayah mengalami kemajuan pesat hingga mencapai masa keemasan. Hal ini terbukti dari banyaknya tokoh ulama nasional dan lokal yang lahir dari lembaga tersebut, antara lain:
Teungku Haji Mahmud Blang Bladeh, Teungku Haji Abdul Rasyid Samlakoe Alue Ie Puteh, Teungku Haji Sulaiman Lhoksukon, Teungku Haji Yusuf Kruet Lintang, Prof. Dr. Hasbi Ash-Shiddieqy, Prof. Ali Hasjmy (mantan Gubernur Aceh pertama), Teungku H. Nurdin (mantan Bupati Aceh Timur), Teungku H. Adnan Bakongan, Teungku H. Habib Sulaiman (mantan Imam Besar Masjid Raya Baiturrahman), dan Teungku H. Idris Lamreung (ayahanda almarhum Prof. Dr. Safwan Idris, mantan Rektor IAIN Ar-Raniry Banda Aceh), serta banyak tokoh lainnya. Sebagian di antara mereka kemudian mendirikan lembaga pendidikan agama (dayah) baru di daerah masing-masing.
Dewasa ini, sekitar dua pertiga dayah yang ada di Provinsi Aceh dipelopori atau dipimpin oleh ulama yang pernah menimba ilmu di Dayah Krueng Kalee. Oleh karena itu, pengembangan kembali dayah ini menjadi hal yang mutlak, mengingat peranannya yang besar dalam peningkatan pendidikan Islam di Aceh.
Satu hal yang kerap terjadi di lembaga pendidikan dayah di Aceh ialah ketika pimpinan (Teungku Chik) wafat, maka berakhir pula kegiatan dayah tersebut. Demikian pula setelah ulama besar Abu Krueng Kalee berpulang ke rahmatullah pada malam Jumat, 15 Januari 1973. Sejak saat itu, aktivitas pendidikan di dayah ini sempat terhenti.
Dua puluh enam tahun kemudian, tepatnya pada 15 Muharram 1420 H / 1 Mei 1999, Dayah Krueng Kalee dipugar kembali atas prakarsa putra beliau, Teungku Haji Ghazali Hasan Krueng Kalee, dan cucunya, H. Waisul Qarani Aly As-Su’udy. Dalam sistem pembelajarannya, dayah yang kini bernama Dayah Terpadu Darul Ihsan menggabungkan metode salafi dan modern. Tujuannya agar para santri dan santriwati tidak hanya menguasai ilmu agama dan berakhlak mulia, tetapi juga mampu menjawab tantangan zaman yang terus berubah.
Sistem pendidikan di Dayah Terpadu Darul Ihsan menggunakan metode pendidikan madrasah formal dan dayah salafi. Kurikulum madrasah yang mengacu pada Kementerian Agama dijalankan secara sinergis dengan sistem pendidikan dayah pada sore, malam, dan selepas subuh. Seluruh santri diwajibkan tinggal di asrama serta menggunakan bahasa Arab dan Inggris dalam percakapan sehari-hari.
Selain itu, santri juga dibekali dengan berbagai kegiatan ekstrakurikuler seperti les komputer, menjahit, nasyid islami, tarian adat Aceh, Dalail Khairat, seni tilawatil Qur’an, kepramukaan, drama tiga bahasa (Arab, Inggris, Indonesia), pidato tiga bahasa, bela diri, kaligrafi (khat), praktik ibadah, serta berbagai pelatihan peningkatan mutu.
Hingga kini, setelah lebih dari lima belas tahun berjalan, jumlah santri mencapai 1.465 orang, yang diasuh oleh 152 guru—45 di antaranya merupakan guru tetap yayasan—serta 18 karyawan. Para santri berasal dari berbagai kabupaten/kota di Aceh, juga dari luar daerah seperti Medan, Padang, Jakarta, Batam, dan Pulau Jawa. Bahkan, ada pula santri yang berasal dari luar negeri seperti Malaysia dan Thailand.
Dari jumlah tersebut, sebagian besar santri berasal dari keluarga kurang mampu. Namun demikian, Dayah Darul Ihsan berkomitmen untuk terus melanjutkan pendidikan bagi mereka meski dalam kondisi sulit. Komitmen ini tentu memerlukan dukungan dari berbagai pihak agar para santri tetap dapat belajar walau terkendala biaya. Alhamdulillah, berkat bantuan dana insidental dan beasiswa bagi santri yatim-piatu, proses pendidikan masih dapat berlangsung hingga hari ini. Sebagaimana pepatah mengatakan, “Kalau ada kemauan, pasti ada jalan.”
Sebagaimana firman Allah SWT dalam QS. Al-‘Ankabut (29): 69:
“Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridaan) Kami, benar-benar akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami. Dan sesungguhnya Allah benar-benar beserta orang-orang yang berbuat baik.”