H Musannif Dianugerahkan Penghargaan Tokoh Publik Pembina Dayah Turast dan Tahfidz

Banda Aceh – Yayasan Elmas’udi Center Indonesia menyelenggarakan Wisuda Akbar Nasional Angkatan ke-8 Tahun 2024 pada hari ini di Auditorium Aly Hasjmy UIN Ar-Raniry, Banda Aceh.

Acara ini dihadiri oleh ratusan peserta Daurah Tahfiz Nasional/Mukhayam Tahfiz Nasional, serta tamu undangan dari berbagai kalangan. , 1 April 2024, Banda Aceh.

Dalam wisuda akbar ini, Elmas’udi Center Indonesia juga memberikan penghargaan kepada sejumlah tokoh yang telah berjasa membina generasi qurany.

Salah satu penerima penghargaan tersebut adalah Tgk H Musannif Sanusi, SE.S SH, Ketua Yayasan Darul Ihsan Abu Krueng Kalee, yang mendapatkan penghargaan Tokoh Publik Pembina Dayah Turats dan Tahfidz.

Tgk H Musannif Sanusi, SE.S SH dikenal sebagai sosok yang aktif dalam pembinaan dayah turats dan tahfidz di Aceh.

Selain Tgk H Musannif Sanusi, SE.S SH, terdapat beberapa tokoh lain yang juga menerima penghargaan pada kesempatan ini, di antaranya:

Tgk Muhammad Balia, M.Sos (Pendiri Media Berita The Aceh Post) – Media Yang Konsisten Dalam Memberitakan Pendidikan Alquran dan Keagamaan

Penghargaan ini merupakan bentuk apresiasi Elmas’udi Center Indonesia atas dedikasi dan kontribusi para tokoh dalam pengembangan pendidikan Alquran dan tahfidz di Indonesia.

Ustadz Abi Mas’ud Irhamullah Al Hafiz

Ketua Yayasan Elmas’udi Center Indonesia, Ustadz Abi Mas’ud Irhamullah Al Hafiz, mengatakan bahwa penghargaan ini diharapkan dapat menjadi motivasi bagi para tokoh dan masyarakat untuk terus berkontribusi dalam pengembangan pendidikan Alquran dan tahfidz di Indonesia.

“Pendidikan Alquran dan tahfidz merupakan salah satu kunci kemajuan bangsa Indonesia. Oleh karena itu, kami ingin memberikan penghargaan kepada para tokoh yang telah berjasa dalam pengembangan pendidikan ini,” ujarnya

Wisuda Akbar Nasional Angkatan ke-8 Tahun 2024 ini merupakan salah satu bentuk komitmen Elmas’udi Center Indonesia dalam pengembangan pendidikan Alquran dan tahfidz di Indonesia. Elmas’udi Center Indonesia berharap dapat terus berkontribusi dalam melahirkan generasi Qur’ani yang berakhlak mulia dan berwawasan luas. (MHW)

 

 

Tgk Musannif Apresiasi Kinerja Guru, 14 Alumni Angkatan XIX Lulus Jalur Prestasi Talenta dan SNBP 2024

Aceh Besar –  Tgk H Musannif Sanusi, SE., SH, ketua Yayasan Dayah Darul Ihsan, dengan bangga mengapresiasi kinerja guru dan seluruh pihak yang telah berperan aktif dalam membimbing 14 santri Angkatan XIX tahun 2024 menuju kesuksesan. Melalui kerja keras mereka, 14 alumni berhasil meraih berbagai prestasi melalui jalur Prestasi Talenta dan SNBP di sejumlah Universitas ternama di Sumatera. 31 Maret 2024.

Kesuksesan ini merupakan buah dari kurikulum terpadu yang diterapkan, yang melibatkan tiga unsur utama: Dayah, Kementerian Agama, dan Umum. “Ini adalah hasil nyata dari kolaborasi yang kuat antara lembaga-lembaga pendidikan kita,” ungkap Tgk Musannif Sanusi.

Seleksi Nasional Berbasis Prestasi (SNBP) tahun ini telah menghasilkan 14 santri yang lulus, menunjukkan prestasi gemilang dari siswa-siswa Darul Ihsan. Di antara mereka, 8 santri lulus melalui SNBP dengan rincian sebagai berikut:

  1. Niswatun Najwa (S1 Biologi, USK)
  2. Dara Ramadhani (S1 Informatika, USK)
  3. Syifa Nazila (S1 Teknik Arsitektur, UNIMAL)
  4. Najla Haura (S1 Pendidikan Fisika, USK)
  5. Salsabilla (S1 Teknologi Hasil Pertanian, USK)
  6. Rahmidar (Pendidikan Fisika, USK)
  7. Nanda Zahkiaramazani (D3 Analis Farmasi dan Makanan, USU)
  8. Early Munirah (S1 Teknik Sipil, USK).

Sementara itu, 4 santri berhasil meraih prestasi melalui jalur Prestasi Talenta USK:

  1. M. Zaky Al Halimi (S1 Pendidikan Dokter, USK)
  2. Filza Awanis (S1 Pendidikan Dokter, USK)
  3. M. Fariel Alkautsar (S1 Ilmu Hukum, USK)
  4. M. Naufal Rianda (S1 Pendidikan Bahasa Inggris, USK).

Dua Santri SMK yang lulus SNBP 2:
1. Muhammad Arief Hakim (D3 Manajemen Informatika, USK)
2. Anshar (S1 Teknik Arsitektur, UNIMAL).

Tgk Mustafa Husen Woyla, S.Pd.I, Wakil Pimpinan Dayah Darul Ihsan, juga mengingatkan santri yang belum berhasil melalui SNBP untuk tetap giat memantau peluang beasiswa lainnya. “Pemerintah telah membuka banyak formasi beasiswa, dan sangat disayangkan jika peluang ini tidak dimanfaatkan dengan baik,” ujarnya.

 

 

Perjalanan Ayahanda Waisul dalam Meraih Ilmu dan Pengalaman Tanpa Gaji

Sosok Ayahanda Waisul Qarani Aly as – Su’udi

Ayahanda Waisul Qarani Aly as – Su’udi lahir dalam keluarga sederhana di Jakarta, Indonesia. Meskipun diperlakukan keras oleh keadaan, ia memilih untuk tidak menyerah pada ketidakpastian hidup. Kisahnya dimulai ketika ia menghadapi kegagalan dalam program kuliah di Jakarta pada tahun tertentu.

Tanpa putus asa, Ayahanda Waisul memutuskan untuk bergabung dengan PT Embun Emas International Incopreter (PT EMII), perusahaan kontraktor dan suplayer di Pertamina yang dimiliki oleh abang iparnya, M. Jamil. Meskipun hanya sebagai karyawan biasa dan tanpa mendapatkan gaji selama setahun, Ayahanda Waisul tetap bertahan. Baginya, pengalaman dan pengetahuan yang didapat jauh lebih berharga dari sekadar uang.

Di PT EMII, Ayahanda Waisul meresapi dunia usaha dagang. Meskipun tanpa gaji, ia memperoleh banyak ilmu yang kelak akan sangat berharga dalam merintis usaha dagangnya sendiri di Lhokseumawe. Pengalaman ini membuka jendela baru baginya, mengenalkannya pada berbagai perusahaan besar seperti PT Arun, Mobil Oil, PIM, Asean, KKA, dan BUMN lainnya.

Namun, Ayahanda Waisul tidak berhenti di situ. Meskipun gagal dalam kuliahnya di Jakarta, ia tidak menyerah pada impian untuk mendapatkan pendidikan yang lebih tinggi. Akhirnya, ia diterima di Kampus Universitas Islam Jakarta (UIJ). Sambil bekerja, Ayahanda Waisul memulai perjalanan kuliahnya dari tahun 1976 hingga 1978.

Sambil meniti pendidikan tinggi, Ayahanda Waisul juga bekerja di PT Gatari Air Bersih, perusahaan penerbangan yang beroperasi di wilayah Timur seperti Kalimantan. Selama dua tahun, ia menjalani kehidupan yang padat dengan bekerja sambil kuliah. Tantangan demi tantangan datang, namun Ayahanda Waisul tidak menyerah.

Tahun 1979 menjadi tahun yang berarti bagi Ayahanda Waisul, ketika ia memulai perjalanan baru dengan berkeluarga. Namun, kehidupan tidak selalu berjalan mulus. Di akhir-akhir perkuliahan, ia dihadapkan pada tantangan berat seperti sakitnya istri dan berbagai kesulitan lainnya.

Meskipun perjalanan hidupnya penuh dengan rintangan, Ayahanda Waisul tidak pernah menyerah pada impian dan ambisinya. Setiap pengalaman, baik suka maupun duka, telah membentuknya menjadi individu yang tangguh dan berpengetahuan luas. Kisah hidupnya mengajarkan kita tentang kegigihan, ketabahan, dan pentingnya belajar dari setiap pengalaman, bahkan saat kita tidak mendapatkan imbalan langsung. [MHW-TZ]

 

Pengumuman Kelulusan Seleksi PSB 2024-2025 Dayah Darul Ihsan Abu Krueng Kalee

SK KELULUSAN PSB 2024-2025 PIMPINAN DAYAH DARUL IHSAN ABU KRUENG KALEE

Klik disini Jalur Prestasi

Klik disini Jalur Reguler 

Unduh Berkas Perlengkapan Pendaftaran Ulang Santri Baru

Pendaftar  yang tidak lulus jalur  prestrasi, dinyatakan namanya lulus di jalur reguler.

Subhanallah, Alumni Darul Ihsan Filzah Jannati Zainun  lulus Summa Cum Laude di Universitas Al-Azhar Mesir

Kairo – PPMI (Persatuan Pelajar dan Mahasiswa Indonesia) Mesir bekerjasama dengan KBRI (Kedutaan Besar Republik Indonesia) Mesir kembali mengadakan upacara wisuda tahun ajaran 2022-2023.

Acara yang sangat mengesankan ini dilaksanakan selama dua hari di Al-Azhar Conference Center, Kairo, pada Rabu dan Kamis (8-9/11) dimana 1101 mahasiswa Indonesia dari berbagai daerah di tanah air dikukuhkan. Terdapat 13 alumni Dayah Darul Ihsan dari 103 pelajar Aceh yang berhasil menuntaskan studi pada jenjang S-1 yang menyandang title Lc.

Acara wisuda ini turut dihadiri oleh sejumlah tokoh penting, termasuk Said Abdrrahman Musa, Penasehat Grand Syekh Al-Azhar Bidang Hubungan Luar Negeri, Rektor Universitas Al-Azhar Prof. Dr. Salamah Daud, Duta Besar RI untuk Mesir Dr. Luthfi Rauf, M.A., Wakil Rektor, Dekan, dan Penjabat Tinggi di universitas Al-Azhar Mesir.

Lulus dengan predikat summa cum laude menjadi cita-cita banyak pelajar dan mahasiswa, terlebih mereka yang studi di luar negeri. Sebab, hal itu penuh tantangan dan perjuangan yang keras. Kabar baik datang dari Filzah Jannati Zainun, Lc., yang menetap di Negeri Para Nabi. Salah satu alumni Dayah Darul Ihsan Abu Krueng Kalee yang baru saja diwisuda tahun ini kembali membawa berita yang sangat langka dan membanggakan.

Hasil yang diperolah Filzah Jannati merupakan hasil yang sangat mengharumkan nama Aceh. Sebab, untuk jenjang Strata 1 belum pernah ada mahasiswa Aceh yang menempuh pendidikan di Universitas tertua di dunia yang lulus dengan meraih predikat teratas dengan Pujian/Kehormatan Tertinggi yaitu Summa Cum Laude (Mumtaz ma’a Martabah Asy-syaraf) dikarenakan mengingat begitu susah dengan bahasa pengantar yang berbeda dalam memahami kitab-kitab turats dan juga harus melewati tahapan ujian tulis maupun lisan dengan begitu ketat. Bahkan Filzah merupakan salah satu wisudawan perdana terbaik Keluarga Mahasiswa Aceh (KMA) Mesir tahun ini yang meraih Summa Cum Laude/Mumtaz ma’a Martabah Asy-syaraf) untuk jenjang Strata 1.

Gadis kelahiran Aceh Besar, tepatnya di Gampong Meunasah Baro Ingin Jaya ini merupakan anak bungsu dari Bapak Tgk. Zainun Yusuf (Pensiunan UIN Ar-Raniry) dan Ibu Cut Munira S. Sos (Pensiunan SMPN 3 Ingin Jaya Aceh Besar)

Di Aceh, Di dayah Darul Ihsan secara terpisah, Tgk H Musannnif Sanusi, ketua yayasan di damping wakil pimpinan dayah Darul Ihsan mengapresiasi penuh capaian luar Filzah berserta 12 Alumni Darul Ihsan yang selesai kuliah S-1 di Al-Azhar University tahun 2023 ini, yakni;

  1. Filzah Jannati 2. Alvia Hasli Ramadhan 3. Geubrina Rahmatika 4. Radhwa Yasmin 5. Faizul Ammar 6. Abraruddin 7. Sultan Naufal  8. Riski Aulia Saputra 9. Muhammad Khatami 10. Ahmad Tahrir 11. Amsar 12. Mukram Marzuki 13. Fudhail Nuril Huda.

‘Semoga adik-adik letingnya ikut jejak para senior berjibaku mencari ilmu di tanah para anbiya.’ Pungkasnya (ZZ-MHW)

 

13 Alumni Dayah Darul Ihsan Abu Krueng Kalee Diwisuda di Universitas Al-Azhar-Mesir

Kairo – PPMI (Persatuan Pelajar dan Mahasiswa Indonesia) Mesir bekerjasama dengan KBRI (Kedutaan Besar Republik Indonesia) Mesir kembali mengadakan upacara wisuda tahun ajaran 2022-2023. Sebanyak 13 alumni Dayah Darul Ihsan telah menyelesaikan pendidikan di Universitas tertua di dunia, Al-Azhar, Kairo, Mesir.

Acara yang sangat mengesankan ini dilaksanakan selama dua hari di Al-Azhar Conference Center, Kairo, pada Rabu dan Kamis (8-9/11) dimana 1101 masiswa Indonesia dari berbagai daerah di tanah air dikukuhkan. Terdapat 13 alumni Dayah Darul Ihsan dari 103 pelajar Aceh yang berhasil menuntaskan studi pada jenjang S-1 yang menyandang title Lc.

Acara wisuda ini turut dihadiri oleh sejumlah tokoh penting, termasuk Said Abdrrahman Musa, Penasehat Grand Syekh Al-Azhar Bidang Hubungan Luar Negeri, Rektor Universitas Al-Azhar Prof. Dr. Salamah Daud, Duta Besar RI untuk Mesir Dr. Luthfi Rauf, M.A., Wakil Rektor, Dekan, dan Penjabat Tinggi di universitas Al-Azhar Mesir.

Adapun Alumni Dayah Darul Ihsan yang diwisudakan di kampus tertua di dunia itu, yaitu:

Filzah Jannati Zainun (Fakultas Syari’ah Islamiyah), Alvia Hasli Ramadhan  (Fakultas Ushuluddin, jurusan Aqidah dan Filsafat), Geubrina Rahmatika (Fakultas Ushuluddin, jurusan Tafsir), Radhwa Yasmin (Fakultas Syari’ah Isalamiyah), Amsar (Fakultas Ushuluddin, jurusan Hadis), Sultan Naufal (Fakultas Ushuluddin, jurusan Tafsir), Mukram Marzuki (Fakultas Ushuluddin, jurusan Hadis), Fudhail Nuril Huda (Fakultas Ushuluddin, jurusan Aqidah dan Filsafat), Faizul Amar (Fakultas Ushuluddin, jurusan Tafsir), Muhammad Khatami (Fakultas Syari’ah Islamiyah), Ahmad Tahrir (Fakultas Syariah Islamiyah), Abraruddin (Fakultas Syari’ah Islamiyah), dan Riski Aulia Saputra (Fakultas Syari’ah Islamiyah).

Ali Akbar Alfata, Lc., senior PADI (Persatuan Alumni Dayah Darul Ihsan) Kairo-Mesir sekaligus Wakil Ketua KMA (Keluarga Mahasiwa Aceh) Mesir mengatakan, “Alhamdulillah salah satu di antara 13 Alumni tersebut, Filzah Jannati Zainun berhasil meraih predikat dengan Pujian dan Kehormatan Tertinggi yaitu Summa Cum Laude/Mumtaz ma’a Martabah Asy-Syaraf. Prestasi yang sangat langka ini tentu melalui berbagai proses perjuangan yang luar biasa. Summa Cum Laude ini merupakan predikat perdana yang diraih oleh Mahasiswa Aceh di Mesir jenjang S-1 sepanjang sejarah, dan alumni terbaik Darul Ihsan berhasil menggapainya,” kata dia seperti dilansir siaran pers Humas DDI.

Rasa syukur dan bangga juga disampaikan oleh Ketua Yayasan Dayah Darul Ihsan Tgk. H. Musannif, S.E, didampingi oleh Wakil Pimpinan Bidang Humas menyampaikan rasa syukur kepada Allah SWT tahun ini 13 orang dari Alumni Darul Ihsan di Kairo diwisuda. Setiap tahun semakin bertambah alumni yang diwisuda, ini merupakan bukti dari keberhasilan Dayah Darul Ihsan mendidik santri-santrinya hingga bisa mencapai titik ini. Hal tersebut merupakan sebuah prestasi yang luar biasa. Harapannya ke depan banyak lagi alumni Darul Ihsan yang bisa melanjutkan pendidikan ke Al-Azhar, dan tidak hanya itu, tapi senantiasa mengukir prestasi sebagaimana mestinya.” [ZZ dan MH]

 

 

 

 

 

 

Lembaga Filantropi Indonesia dan DPP ISAD Sosialisasi Hidup Bersih dan Sehat Lima Dayah di Aceh

Banda Aceh – Lembaga Filantropi Indonesia bekerjasama dengan DPP Ikatan Sarjana Alumni Dayah Aceh dan Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI) Aceh melaksanakan sosialisasi dan  penyuluhan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) bagi para santri.

“alhamduillah kita telah selesai melaksanakan kegiatan berupa sosialisasi dan  penyuluhan di 5 titik dayah/pesantren  di Banda Aceh dan Aceh Besar.

Adapun sejumlah dayah yang dilaksanakan  penyuluhan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS), di Banda Aceh ada Dayah Mini Aceh dan Dayah Mishrul Huda Malikulsaleh. Di Aceh Besar ada dayah Darul Ihsan Abu Krueng Kalee, Irsyadul Abidin Qurani dan Dayah Daruzzahidin. .” Demikian terang Tgk Mustafa Husen Woyla, S.Pd.I ketua DPP ISAD Aceh didampingi oleh ketua HKTI Aceh Helmy N Hakim, S.IP di Sekretariat ISAD di Jambo Tape, Banda Aceh. (14/10/2023)

Semoga dengan adanya kegiatan positif seperti ini, bisa menjadi budaya yang mengakar dan menjadi karakter bagi setiap pribadi anak, dan kelak kita tidak aka lagi wabah yang mematikan atau penyakit lain yang disebabkan oleh tidak ada budaya hidup bersih dan sehat.

“Terima kasih kepada semua unsur yang telah terlibat dalam Sosialisasi Hidup Bersih dan Sehat.” Pungkas Mustafa Woyla [*]

 

 

 

 

IPHI Aceh Besar dan Majelis Ta’lim Perempuan Al-Mabrurah Gelar Kajian Perdana

 

Aceh Besar  – Jamaah Pengajian Majelis Ta’lim Perempuan Al-Mabrurah dan Ikatan Persaudaraan Haji Indonesia (IPHI), Kabupaten Aceh Besar mengadakan kajian perdana sekaligus peringatan Maulid nabi Muhammad SAW di masjid dayah Darul Ihsan Abu Hasan Krueng Kalee, Ahad, 8 Oktober 2023.

Kajian diisi oleh Syeikh Abu Muaz Muhammed Abdul Hay Al-Uwenah Al-Mishri dan Ayah H Muhammad Faisal Sanusi, Pimpinan Dayah Darul Ihsan Abu Krueng Kalee.

Tgk H Musannif Sanusi didampingi H. Anwar Idris, MM mengatakan, Alhamdulillah acara yang penuh dengan ukhuwah ini terselengara di Aceh Darul Ihsan.

“Kita berharap akan ada kajian-kajian mendatang, tidak hanya kali ini saja, karena dengan adanya kajian selain dapat ilmu, juga dapat memperat silaturahmi dan relasi” tambahnya.

 

Acara yang berlangsung di komplek Putra Dayah Darul Ihsan dihadiri oleh sejumlah tokoh, terlihat perwakilan dari pj Bupati Aceh Besar, guru dan pengurus Dayah Darul Ihsan dan sejumlah undangan lainnya. [*]

 

 

Larangan Menghina Ahlulbait Nabi dan Adabnya

Oleh Mustafa Husen Woyla*

Para Rasul adalah utusan Allah untuk menyampaikan risalah tauhid dan panduan hidup agar selamat di dunia dan akhirat. Pada mereka rasul dan ahlubait yang beriman adalah orang –orang yang dimuliakan dan disucikan oleh Allah SWT.

Menurut ulama sunni, Ahlulbait adalah keluarga Nabi Muhammad dalam arti luas, meliputi istri-istri dan cucu-cucunya.

Sekalipun ada segelintir ulama tauhid yang berpendapat bahwa nabi Muhammad SAW tidak ada lagi ahlulbait karena tidak ada anak laki-laki, sementara dalam islam, nasab dihitung dari pihak ayah, namun hal itu terbantahkan dengan sejumlah nash yang dimaksud ahlubait bukan hanya sekedar keturunan nabi, namun lebih luas kepada keluarga pihak ayah dan juga ibunya juga termasuk para istrinya, ummahatul mu’minin hingga kadang-kadang ada yang memasukkan mertua-mertua dan menantu-menantunya.

Dalam banyak nash ayat dan hadist para ulama tauhid mutakallimin membahas secara khusus tentang adab menghormati dan sejumlah ancaman menghina ahlulbait atau disebut habib, jama’nya habaib, syarif-syarifah, sayyid-sayyidah dengan berbagai istilah menurut jalur keturanannya.

Dalam hadits riwayat Imām Baihaqī menjelaskan kewajiban menjaga adab dengan ahlulbait sebaagai berikut,

“Tidak sempurna iman seseorang sehingga kecintaannya padaku melebihi kecintaannya pada dirinya sendiri, keluargaku (‘itratī – khusus) lebih dia cintai dibanding dirinya sendiri, dan keluargaku (ahlī – umum) lebih dia cintai dibanding dirinya sendiri dan dzatku dia cintai dibanding dzatnya sendiri.”
Logika sederhananya, memuliakan utusan Allah dan ahlulbaitnya sama dengan memuliakan Sang Pengutus, yakni Allah SWT.

Adapun untuk melegitimasi tentang betapa pentingnya memuliakan ahlubait, Allah menuntun langsung dalam ayat alquran surah Asy-Syura 23, “… Katakanlah, “Aku tidak meminta kepadamu sesuatu upah pun atas seruanku kecuali kasih sayang dalam kekeluargaan. Dan siapa yang mengerjakan kebaikan akan Kami tambahkan baginya kebaikan pada kebaikannya itu …”

Juga penguatan langsung dalam hadist, “Cintailah Allah atas nikmat yang telah diberikan oleh-Nya, dan cintailah aku karena cinta kepada Allah serta cintailah ahli baitku karena cinta kepadaku.” (HR. Ath-Tirmidzi). Dari hadist Tirmizi juga Sang Rasul berpesan secara tersirat “ Jangan sakiti aku memalui anak-anakku, istri-istri dan keturunan ku, karena dia adalah bagian dari diriku”

Maksudnya, satu paket lengkap iman adalah cinta kepada Allah, cinta kepada rasul-Nya serta ahlu bait adalah cinta yang bersifat wajib bukan cinta sunat, bahkan syarat kesempurnaan iman.

Hanya terjadi perbedaan ahlulbait dari pihak mana dan siapa saja di yang dimuliakan. Disitu terjadi perbedaan antara sunni-syiah, pun demikian pada intinya, semua firqah islam memberi penghormatan istimewa kepada mereka kecuali “khawarij”.

Jadi, jika ada orang yang tidak memuliakan para ahlu bait, ada beberapa kemungkinan, bisa jadi mereka dari golongan khawarij atau neo khawarij dan mungkin juga orang awam yang belum sempurna belajar ilmu tauhid secara memadai kadar wajib fadhu ain-nya.

Ahlulbait di Nusantara

Di Indonesia, para habaib memiliki sejarah panjang, diantaranya ada habib yang tercatat dalam sejarah politik nasional adalah Habib Ali bin Abdurrahman Alhabsyi (Habib Ali Kwitang), Habib Ali Alatas (mantan Menteri Luar Negeri), Habib Lutfi bin Yahya dan Habib Rizieq Shihab.

Selain nama-nama tersebut masih banyak Habib-habib lainnya yang mempunyai pengaruh besar. Terutama di Aceh, ada Habib Bugak Al Asyi (Habib Abdurrahman bin Alwi Al-Habsyi) Koordinator Wakaf Baitul Asyi di Mekkah, Habib Muda Seunagan atau Abu Peuleukung adalah seorang ulama dan pejuang yang berasal dari Nagan Raya dan Al-Qutb Al Habib Sayyid Abubakar bin Husein Bilfaqih ( Teungku Di Anjong) di Banda Aceh.

Adapun tentang peran dakwah para habaib di Aceh sangatlah luas, lebih lanjut, penulis merekomendasi membaca lengkap buku berjudul “Kontribusi Habaib di Aceh Dari Masa Ke Masa” yang ditulis oleh Yusuf Qardhawi Al-Asyi.

Sebenarnya warga Indonesia, tak hanya di Aceh sangat memuliakan para ahlubait dari zuriyat Sang Rasul Muhammad SAW.

Namun akhir-akhir ini, karena terkait pergerakan dan sikap politik, ada segelintir orang mencela para habaib, tapi itu tidak berlangsung lama, bahkan Negara juga sangat memuliakan para habaib, baik di dalam dan maupun dari luar negeri, buktinya banyak sekali acara kunjungan para habaib ke suluruh Indonesia, dan baru-baru ini Habib Umar bin Hafidz ulama terkemuka Hadramaut, Yaman dan tokoh dunia diundang pada kajian subuh di Masjid Istiqlal pada ahad 20/8/2023 bulan lalu.

Jadi, umumnya kaum muslimin Indonesia dan pemerintahannya mencintai para habaib sesuai dengan anjuran agama mayoritas di NKRI ini. Hanya hitungan jari para nitizen pengguna medsos berbasis video di tiktok menghujat para habaib karena ada kesalahpahaman.

Mereka ini bisa jadi tidak ada llmu tentang adab kepada zuriyat yang sucikan dalam islam atau mereka “menggadaikan iman” hanya untuk mencari cuan, memviralkan diri atau hanya sekedar cari ketenaran.

Ancaman Menghina Ahlubait Nabi

 

Setiap muslim mukallaf, tentu ada konsekwensi hukum taklif dalam islam, berupa dosa besar atau kecil, begitu juga hukum Negara tentu ada proses tersendiri.

Adapun ancaman dalam aqama islam, diceritakan dari Abu Sa’id Al-Khudriy ra
Rasulullah saw bersabda: “Demi dzat yang menguasai jiwa ragaku, tidaklah seseorang marah (mencaci dan membenci) kepada keluargaku kecuali Allah akan menceburkan ke dalam neraka.” (HR. Al-Hakim).

 

Akhirul kalam, akhir tulisan ini kita hanya berharap kepada Allah memberi petunjuk kepada orang yang telah khilaf atau sengaja menghina para ahlubait.
Saran, buatlah konten kreatif dan positif yang tidak ada makian, apalagi bertalian dengan keluarga suci nabi, sungguh sangat disayangkan.
Namun jika tidak berubah, kita bertawakal dan menyerahkan kepada Allah sembari mengingat perkataan Nabi Nūḥ a.s. dalam al-Qur’ān:.

Nūḥ berkata: “Ya Tuhanku, sesungguhnya aku telah menyeru kaumku malam dan siang, maka seruanku itu hanyalah menambah mereka lari (dari kebenaran).” (Nūḥ [71]: 5-6).

Semoga tulisan ini yang penulis rujuk pada kitab “Sabibul ‘Abid ‘ala Jauharah at-Tauhid karya KH Muhammad Shaleh Darat al-Samarani. Ia adalah ulama besar sekaligus guru tokoh pendiri Muhammadiyah dan Nahdlatul Ulama yakni, KH Ahmad Dahlan dan KH Hasyim Asyari. menjadi asbab turunnya hidayah bagi manusia yang merupakan tempat khilaf salah dan dosa.
Jadi, “njang ka, kakeuh, ukeu bek meuulang klayi.”

Penutup,

“Ajarilah anak-anakmu tiga perkara: cinta kepada nabi kalian, cinta kepada keluarga nabinya, dan membaca al-Qur’ān.” (HR. al-Thabrani).

Tidak bisa dibenarkan jika orang yang mengaku mencintai Nabi Muḥammad s.a.w. tapi membenci keturunan nabi.

Penulis Adalah, Pengamat Bumoe Singet, Ketum DPP ISAD Aceh, Guru Ilmu Kalam dan Wakil Pimpinan Dayah Darul Ihsan Abu Hasan Krueng Kalee.

 

Darul Ihsan Abu Krueng Kalee dan Mudi Mesra sumbang 2 Medali Emas Pada MQK N 2023 Lamongan

Lamongan Jatim – Perhelatan Akbar dunia pesantren Indonesia hampai usai dilaksanakan, nanti malam akan diumumkan juara umum  pada Musabaqah Qira’atil Kutub (MQK) Tingkat Nasional, di Pesantren Sunan Drajat, Lamongan Jawa Timur, 10-18 Juli 2023

Dari pengumuman para juara, Alhamdulillah 15 finalis Aceh semua dapat peringkat.

Ada dua emas yang disumbangkan oleh putra putri Aceh

Nasywa Alfataya, Juara 1, Cabang Akhlak Wustha Putri, Santriwati asal Dayah Darul Ihsan Abu Krueng Kalee, Aceh Besar

Dan Muhammad Khairul Muammar, Juara 1 Cabang Nahwu Ulya Puta, Asal Dayah Mudi Mesra – Samalanga, Biruen.

Grand  totalnya sejumlah peringkat sebagai berikut

Juara I 2 orang

Juara II 4   orang

Juara  III 2 orang

Juara Harapan I 1

Juara Harapan II 3

Juara Harapan III 3

Adapun dari dari Dayah  Darul Ihsan Abu Krueng Kalee dan juga Aceh Besar ada 3 santri.

  • Nasywa Alfataya, Juara 1, Cabang Akhlak Wustha Putri
  • Hazira Ulfa, Juara 3, Cabang Tauhid Wustha Putri
  • Rahmatul Husna, Peringkat 7, Cabang Tafsir Wustha Putri

Tgk H Musannif Sanusi, Ketua Yayasan Dayah Darul Ihsan Abu Hasan Krueng Kalee mengapresiasi capaian luar biasa santri Darul Ihsan yang sudah mampu meraih medali emas dan perunggu.

Amatan kami, ada sejumlah hal perlu dievaluasi untuk persiapan MQK N mendatang agar para santri Aceh bisa mendapat juara umum.

Sekarang, walaupun tidak mendapat juara umum, namun 15 orang finalis, cukuplah mewakil Aceh yang dikenal dengan bumi serambi mekkah, syariat islam dan dinas khusus yang megurusi dayah-dayah.

“Maka, Hasil MQK N ini menjadi bahan bagi maju mundur dayah Aceh untuk masa depan di kancah nasional.” Terang Musannif

Para Juara Dari Aceh

 

 

 

 

 

 

Adapun para Juara secara nasional bisa diakses di link https://www.nu.or.id/nasional/inilah-juara-mqkn-2023-majelis-qiraatul-kutub-dan-bahtsul-kutub-Bcfr8